1

APA YANG BISA DIBERIKAN OLEH CINTA?

Posted by Santosa-is-me on 2:41 AM in
Fix, sepertinya gue memang harus musuhan dengan bulan Maret. Bulan ini memang selalu nggak bersahabat dengan kisah cinta gue. Gadis yang sama, patah hati yang serupa, galau yang tidak ada beda dalam dua tahun belakangan ini...

Mungkin gue dulu banyak dosa makanya Tuhan bikin kisah cinta gue kayak begini...

Gue nggak akan curhat di sini, karena gue bukan tipe orang yang doyan curhat-curhat nggak jelas (padahal paragraf sebelumnya juga isinya curhat). Gue cuma pengen nge-deep thinking sedikit saja. Tentang apa sih yang diberikan oleh sebuah cinta hingga bikin kita manusia tergila setengah mati padanya.

Gue sampai sekarang masih percaya dengan yang namanya cinta sejati. Seseorang akan menemukan seseorang yang benar-benar dia cintai dan mencintai dia. Sesederhana itulah cinta sebenarnya. Dua orang bertemu, jatuh cinta, kemudian menikah. Walau dalam kenyataannya tidak sesederhana itu. Cinta adalah hal paling ribet yang mendatangkan sejuta variabel hingga mungkin memunculkan sejuta kemungkinan yang tidak terduga.
Cinta itu melengkapi yang hilang....
Tapi apa sih yang bisa diberikan sebuah cinta? Rasa nyaman, rasa saling melengkapi, rasa cocok, rasa saling sepenanggungan. Bagi gue cinta adalah morfin paling ampuh buat menghadapi kehidupan yang memang penuh dengan hal-hal menakutkan. Lihat aja seorang cowok, berapa banyak ketakutan yang harus dihadapinya dalam hidup : sunat, kejepit resleting, UN, SMPTN, skripsi, nganggur, nikahin anak orang, ngehamilin anak orang (urutannya jangan salah yo) sampailah ke akhirnya mati. Nah cinta, yang bikin semua ketakutan yang dihadapi manusia itu nggak terlalu menakutkan dan bikin paranoid setiap saat. 

Cinta itu berbanding lurus dengan harapan. Seorang yang jatuh cinta adalah orang yang penuh dengan harapan tentang orang yang dicintainya. Begitupun sebaliknya, patah hati adalah bentuk kehilangan harapan kita terhadap orang yang kita cintai. Ketika harapan hilang, rasa sakitnya luar biasa hingga hati kita seolah benar-benar patah. Maka selama masih berharap, berarti masih ada cinta di sana. Yang menyedihkan itu kalo ngarep, itu namanya cinta bertepuk sebelah tangan.

Pada akhirnya, kalau kita coba hayati memang yang diberikan oleh cinta itu adalah harapan. Dan harapan, bagi gue adalah salah satu hal paling penting dalam hidup selain oksigen. Tak ada yang pernah tahu seseorang itu bakal masih ketemu sama hari esok atau nggak, tapi harapan menghadirkan sebuah optimisme. Membuat kita bergairah menjalani hidup. Jadi sederhananya cinta menghadirkan harapan, harapan melahirkan optimisme, dan optimisme menjadikan hidup penuh gairah.

Tapi yang namanya cinta dengan sejuta kemungkinannya, maka tak ada yang linear dalam kisah cinta. Tidak selamanya berakhir bahagia. Tidak juga selamanya berujung perpisahan. Ada banyak variabel dan juga banyak kemungkinan. Bahkan dalam kemungkinan-kemungkinan yang paling tak terduga sekalipun.

Hanya saja gue mau ngasih sebuah nasehat penting, ketika cinta yang kau harap tak mengharapkanmu, maka yang harus kau lakukan adalah pergi. Karena bisa jadi kau hanya akan mengganggu, hanya akan menjadi penghambat langkah, hanya akan jadi duri dalam daging, hanya jadi tembok yang membatas kebahagiaan. 

Idiom yang bilang bahwa cinta itu tidak harus memiliki memang bullshit banget menurut gue. Yang namanya cinta harus diperjuangkan sekuat tenaga. Tapi ya, pada saatnya nanti kita semua akan mengerti, bahwa ada cinta-cinta yang pada saatnya memang harus berhenti kita perjuangkan. Bukan karena dia tidak cukup pantas, bukan pula karena kita menyerah, atau karena kita lelah untuk memperjuangkannya, tapi karena kita tahu bahwa cinta kita hanya akan membuatnya terhalang dari kebahagian dan cinta sejatinya.

Cinta tak harus memiliki, yg penting dia bahagia dan gue (pura-pura) bahagi, hiks...
Cinta memberikan harapan. Terkadang cinta memberikan luka. Tapi yang lebih penting dari itu, harusnya cinta mampu menghadirkan pemahaman.

Bahwa kalo kita cinta sama orang, bukan gimana kita milikin dia, tapi gimana kita bahagiain dia....

1

10 THINGS I LOVE ABOUT "HER"

Posted by Santosa-is-me on 11:28 PM in
Posternya nggak menarik amat ya.....
Mungkin bisa jadi Samantha adalah sosok wanita yang diinginkan semua pria di muka bumi, teman ngobrol yang menyenangkan, cerdas, mendukung perkerjaan si pria, senantiasa ada dan begitu mencintai si pria. Sayangnya Samantha tak pernah punya tubuh. Jika tidak, mungkin dia adalah sosok paling sempurna.
Sebenarnya, tema Artificial Intelligence bukan barang baru dalam dunia film. Dari yang besutan Steven Spielberg hingga yang kemaren, Transcendence yang dibilang banyak orang sebagai kegagalan (kembali) Jhonny Deep. Nah kali ini tema yang sama hadir pula dalam "Her." Uniknya, kisah Artificial Intelligence kali ini hadir dalam wujud sebuah hubungan romantis namun aneh. 

Harus gue akui, gue suka banget dengan film satu ini. Beda dengan cinta yang nggak perlu alasan, suka harus punya alasan. So, inilah dia 10 alasan yang buat gue jadi suka dengan film "Her" ini.

1. Berseting masa depan

Film ini berseting masa depan. Dan bagi gue sangat menyenangkan melihat masa depan yang dibentuk film ini, terasa lebih masuk akal dan real. Tidak ada jor-joran tekhnologi masa depan di film ini. Gue bahkan nggak terlalu ingat seperti apa kendaraan masa depan di film ini. Tapi bagaimana melihat orang bisa mengoperasikan tekhnologi dengan suara serta permainan game yang tampak sangat asyik menurut gue cukup menggambarkan bagaimana kerennya masa depan di film ini. Dan plus, juga sukses menampilkan ancaman yang mungkin terjadi seiring semakin majunya tekhnologi: Orang-orang semakin kesepian.
Gamenya interaktif, sampe bisa maki-maki segala....

2. Joaquin Phoenix

Gue nggak begitu kenal siapa Joaquin Phoenix, yang pasti dia sukses menampilkan sosok Theodore, om-om kesepian dengan kumis gede melintang diatas bibirnya. Gue nggak bisa bilang secara penampilan dia jelek, tapi dengan kumis tersebut gue ngeliat dia tampak lebih membumi. Wuih, liat gambar om Joaquin ini tanpa kumis, beda banget. Untung gue cowok, kalau nggak mungkin gue bisa naksir.


3. Banyak latar gedung tinggi

Di film ini, banyak banget adegan yang mengambil ketinggian sebagai latar. Gue sendiri kadang takut sama ketinggian. Tapi gue selalu percaya, memandang luas dari ketinggian adalah sebuah keindahan. Sebuah kebebasan. Karena itu gue suka banget adegan-adegan film ini yang menampilkan pemadangan dari ketinggian. It's so awesome.

menurut gue ini salah satu perkerjaan paling keren di dunia.... 

4. Perkerjaan Theodore

Gue musti bilang apa soal ini. Gue nggak kebayang ada perkerjaan semacam itu di masa depan: Menuliskan surat untuk orang lain. Menurut gue ini salah satu bentuk imajinasi keren si pembuat cerita. Salut.


5. Suara Mbak Scarlet

Scarlett Johansson, siapa yang bisa menolak nama mbak yang satu ini. Bahkan jika itu hanya dalam bentuk suara sekalipun. Suara mbak scarlett menemani hari-hari mu? Gue juga pengen punya Samantha satu.

Ini yang muncul di kepala gue tiap dengar si Samantha ngomong....

6. Pandangan Theodore tentang pernikahan

Gue suka cara pandang tokoh Theodore soal pernikahan. Meski di cerita dia gagal menjalani pernikahan, dia nggak menyalahkan pernikahan itu sendiri. Dia justru menggambarkan pernikahan itu sebagai sesuatu yang begitu indah, ketika dua orang tumbuh dan berubah bersama. Sambil pula di satu sisi menjelaskan bagaimana proses mereka berubah itu terkadang juga bisa jadi menakutkan dan tidak bisa diterima oleh satu dan yang lainnya.

Seorang om-om kesepian tanpa cinta, It's sounds familiar....
7. Nuansa dari film ini dapat banget.

Bagi gue film ini tentang bagaimana orang-orang merasa kesepian ditengah kemajuan tekhnologi. Dan bagi gue film ini sukses menghadirkan nuansa kesepian dari tiap orang yang ada di dalamnya. 

8. Kisah cinta Theodore dan Samantha yang aneh namun manis

Membayangkan seseorang pacaran dengan aplikasi komputer, mungkin cuma dilakukan sama orang freak dan anti sosial parah. Tapi film ini menghadirkan hubungan manusia - komputer yang manis. Bagaimana Samantha bisa mencintai Theodore dengan penuh hasrat dan berusaha untuk menjadi semakin sempurna dalam mencintai. Begitupun sebaliknya. Bahkan sampai adegan making love-nya (silahkan bayangkan gimana ML sama komputer!)

9. Film ini bagus deh pokoknya

Pokoknya film ini bagus, wajar kalo gue suka. Nggak perlu banyak alasan nonton aja sana gih. Filmnya rada mikir, tapi keren sumpah.

10. Gue nonton yang gratisan

Karena ini film tahun 2013, jadi wajar dong kalau gue nggak nonton di bioskop. Dan harus gue akui gue nonton yang versi downloadan alias bajakan. Please, kelakuan gue ini jangan dicontoh. Dan Tuhan, mohon maafkan hamba.


Eh, Chriss Prat yang main Guardian of Galaxy juga main di film ini sebagai Paul teman kerjanya si Theodore. Awalnya karakter Paul ini anoyying banget, tapi ujung-ujungnya sih baik juga ternyata.



1

MENEMBUS MEDIA

Posted by Santosa-is-me on 9:57 PM in
Sebenarnya gue agak malu buat ngaku sebagai penulis. Karena apa? Ya karena menurut gue yang namanya penulis itu dilihat dari karyanya. Seorang koki disebut koki ya karena dia masak. Kalau lagi nggak masak, kita nggak tau kalo dia koki apa bukan. Koki dinilai dari masakan yang dihasilkan. Begitupun penulis. Disebut penulis karena dia menulis, bukan cuma karena dia ngaku-ngaku. Dan seorang yang menulis akan dinilai kualitasnya dari karyanya.

Gue masih menganggap gaya penulisan gue cetek banget. Gue selalu terpengaruh dengan gaya-gaya kepenulisan dari para penulis favorit gue. Dee yang kerap kali mengangkat tema remeh dan menambah value di dalamnya hingga sanggup jadi sebuah karya yang menyenangkan untuk dibaca. Kurnia Effendi dengan ceritanya yang romantis, dewasa dan penuh cinta. Atau ngikut-ngikut Seno Gumira Ajidarma yang penuh metafora dengan level keabsurdan tingkat tinggi. Sesekali nyontoh pula Aditya Mulya yang kocak nan menghibur. Rada nyontek Fahd Djibran yang penuh perenungan dan filsafat mendalam. Atau yang terbaru terinspirasi dengan Benz Bara aka Bernard Batubara, penulis asal Kalimantan Barat juga yang berhasil jadi penulis beken.
Penulis buku ini masih sekampung sama gue...
Nama-nama besar itu bagi gue adalah guru menulis gue. Gue jauh dari kata pandai "menulis." Tentu menulis yang nggak sekedar menulis. Daya imajinasi gue masih cetek, masih perlu banyak belajar, dan perlu banyak membaca. Gue masih mencari-cari seperti apa sih karakter kepenulisan gue.

Tapi, ada satu hal yang sering kali salah dilakukan oleh para penulis pemula seperti gue ini. Kita terlalu sibuk memikirkan soal hal-hal lain ketimbang lebih dulu bikin karya semisal : Bagaimana caranya menembus media.

Dunia kepenulisan sekarang makin ketat. Dan nggak malu-malu lagi para calon penulis muda ini menjadikan perkerjaan penulis menjadi salah satu pilihan karir. Tapi apa semudah itu? Yang namanya pilihan karir tentu menyangkut kesejahteraan hidup, menyangkut honor, menyangkut masa depan. Dan kalau udah ngomongin materi gini, maka impian semua penulis pemula semua sama: menembus media, nerbitin buku, jadi best seller, hidup sampai tua kaya raya.

Tapi dengan makin banyaknya penulis muda yang nggak kalah berbakat, persaingan menembus media juga kian ketat. Gue sendiri pernah beberapa kali sukses menembus media. Kebanyakan memang media lokal tapi juga pernah beberapa kali menembus media nasional. Untuk Pontianak sendiri, honor menulis memang terbilang sangat kecil. Beda dengan di media-media nasional. Sebutlah macam Kompas atau Tempo yang memang menyediakan rubrik cerpen. Di dua media itu gue pernah nyoba beberapa kali mengirim dan dengan karya yang gue anggap terbaik. Namun hasilnya nihil. Tapi gue maklum juga sih, karena gue harus bersaing dengan nama-nama beken yang selain udah punya nama, mereka juga punya karya yang emang bagus.

Terus gimana dong buat para penulis buat bisa beken, populer dan kaya jika menembus media aja sulit. Sebenarnya bisa aja sih dengan cara menerbitkan sendiri. Bahkan banyak karya sukses yang aslinya adalah karya terbitan Indie. Sebut misalnya Laskar Pelangi yang aslinya hanya sebuah novel terbitan indie yang mau dihadiahkan om Andrea Hirata. Atau E.L. James yang nulis Fifty Shades of Grey yang awalnya merupakan cerita berseri di sebuah Fan Page penggemar Twillight. Itu cuma dua contoh, sebenarnya banyak penulis lain yang juga mulai beralih menerbitkan bukunya sendiri.

Bahkan kalo soal uang, sebenarnya menerbitkan sendiri itu jauh lebih menguntungkan penulis. Beda dengan media dan penerbit yang jika seandainya kita berhasil menerbitkan buku mesti banyak dipotong biaya sana-sini, kalo nerbitin sendiri kita bebas nentuin harga, mau keuntungan berapa, dan mau nyetak berapa banyak juga.

Tapi lagi-lagi semua balik ke karyanya sendiri. Selama bagus sih mau di terbitin di media, atau menerbitkan sendiri, atau membiarkannya dinikmati secara gratis oleh orang lain, nggak akan jadi masalah. Si penulis gue yakin akan tetap mendapatkan penghargaan yang sesuai. Jadi lagi-lagi balik ke karya. 

Jadi pesan gue buat para penulis pemula, jangan pusing-pusing atau capek-capek mikirin gimana caranya nembus media, atau gimana caranya biar bisa nerbitin buku. Jangan! Tugas penulis itu cuma satu: bikin karya sebaik-baiknya. Kalau udah, cepat atau lambat orang-orang akan mengapresiasinya.
Scot Fitzgerald, rambutnya H. Lulung mah kalah...
Tapi jangan sampai kayak Scot Fitzgerald ya, yang mana novel Jay Gatsby-nya baru booming setelah dia udah mati duluan. Dia nggak sempat menikmati hasil dari karya luar biasanya tersebut. So, pilihan ada ditangan kita sendiri, mau tetap berjuang nembus media, atau nyoba menerbitkan sendiri. Terserah. Cuma satu hal aja deh: Jangan pernah berhenti menulis.


1

RADIO VOLARE, SELALU BARU

Posted by Santosa-is-me on 2:59 PM in
Usia 42 tahun jelas bukan usia yang muda. Sebagai sebuah Radio, Volare telah menjadi salah satu pelopor dan yang tertua di kota Pontianak. Kota gue. Boleh dibilang, radio ini telah mengudara hampir tiga generasi. Kakek, Bapak hingga cucunya...


Februari 26 kemaren adalah ulang tahun ke 42 buat Radio Volare. Jelas mempertahankan eksistensi ditengah turun naiknya dunia radio nggak mudah. Namun nyatanya Radio Volare tetap jadi salah satu yang terkemuka di kota Pontianak. Selalu hadir dengan sesuatu yang baru dan menarik.


Gue, sebagai bocah ingusan di dunia Radio ini merasa bahwa beruntung sekali bisa menimba ilmu di dunia radio justru dari salah satu radio yang menurut gue terbaik di kota ini. Istilahnya gue belajar pada guru yang tepat, pada ahlinya. Konon yang gue dengar, para "jedi" dunia radio Pontianak kebanyakan memang jebolan radio satu ini.

Baca juga : Keluarga Baru

selamat ulang tahun ke 42 Radio Volare (sumber gambar: disini)
Yang pasti, bergabungnya gue di Radio Volare bukan sesuatu yang gue rencanakan. Namun pada akhirnya gue benar-benar menikmatinya. Sebagian besar penghasilan bulanan gue bukan berasal dari radio, tapi jangan salah, kalau diharuskan memilih diantara dua itu, gue bisa memilih radio. Trust me, terkadang ada hal yang nggak bisa ditukar dengan materi.

Ada beberapa hal yang membuat gue senang bisa berada di radio Volare:

Pertama, di Radio Volare gue jadi bisa siaran. Paling nggak, di kota Pontianak (yang secara de facto maupun yuridis bukan kota gue) gue sekarang adalah somebody. Kalo ngenalin diri gue lebih senang nyebutin bahwa gue penyiar Radio Volare, bukan karyawan di sana atau di situ. Dan dengan jadi penyiar Radio gue berasa lebih ngartis.

Kedua, gue ketemu banyak orang baru. Dan itu sesuatu yang sangat menyenangkan. Dulunya sih, gue selalu merasa bahwa gue adalah seorang introvert. Gue males mau gaul sama orang lain apalagi cuma buat basa-basi. Tapi sekarang gue lebih berani buat berkenalan sama teman-teman baru. Dimana itu sangat membantu buat aspek hidup gue yang lain.

Ketiga, gue jadi lebih berani membangun ide. Otak gue nggak terbatasi. Gue berani acungi jempol, radio Volare penuh dengan manusia-manusia ajaib dengan ide-ide kreatif. Gue kadang-kadang malah minder sendiri, jangan-jangan gue yang paling nggak kreatif diantara semuanya.

Keempat, Pandangan gue tentang dunia semakin luas. Jadi penyiar radio menuntut gue untuk serius mengupgrade diri dan juga wawasan. Gue juga bertemu dengan orang-orang hebat. Gue jadi tahu gimana orang bisa jdi traveler keliling dunia. Gimana orang tetap bisa kerja dapat duit tanpa harus pergi ngantor dari jam 9 sampai jam 5. Bahwa dunia ternyata tidak sesempit yang gue pikirkan. 

Kelima, terakhir, gue bebas dengar lagu sesuka gue. Taste musik gue mungkin belum terlalu bagus. Tapi paling nggak, dengan berada di Volare, gue jadi bisa menikmati lagu semau gue dan gue dibayar untuk itu. Apalagi coba yang bisa semenyenangkan itu?

Baca juga : the Day Before 41

Pokoknya gue bersyukur telah jadi bagian dari 42 tahunnya Radio Volare. Gue nggak akan lupa. Keberadaan gue di dalamnya bakal gue ingat sampai kapanpun, dan bakal jadi kenangan indah buat gue.

Selamat ulang tahun ke 42 Radio Volare. Biar semakin menua, gue tahu kamu penuh dengan hal-hal baru. Semangat baru, wajah-wajah baru, program baru, dan banyak hal-hal baru tanpa harus melupakan sejarah panjang yang telah dibangun oleh para pendahulumu.
Lomba bermain cangkulan, didominasi wanita....
Lomba mewarnai anak-anak karyawan...
Lomba karoke antar karyawan dan penyiar...
tetap ceria, walau Volare banyak kalah lomba...
Kru Primadona fm...
Kenari fm dan Kantor...
Pak bos beserta istri...
Selalu ada kegembiraan baru di tempat ini..

2

MIMPI ITU DIWUJUDKAN, BUKAN DITINGGALKAN!

Posted by Santosa-is-me on 10:36 AM in
Gue masih menganggap percaya pada hal-hal konyol kayak mimpi dan cinta sejati itu adalah suatu kebodohan. Karena itu gue selalu bertanya kepada diri gue, kapan yah kira-kira gue ini bakalan jadi pinter?

Dari dulu gue punya banyak mimpi soal masa depan. Salah duanya yang sudah tertanam sejak lama adalah dua, menjadi penulis dan pengusaha. Dua hal yang semuanya bermula dari kegemaran gue baca, terus berlanjut kemenulis serta keinginan gue jadi orang kaya raya.

Tapi realita ternyata nggak semudah kayak bunga tidur. Gue nyatanya bukan anak orang kaya yang diwarisin perusahaan besar oleh orang tuanya. Gue juga bukan orang yang dianugrahi modal segepok duit yang bisa bikin apa saja dengan itu. Gue cuma ordinary people, very common people (asli gue sok-sok-an aja pake bahasa Inggris ini, entah benar atau nggak).

Itulah yang kadang bikin nyesak. Realita terkadang nggak sebagus mimpi. Gue jadi ingat gimana kisah Ikal di Sang Pemimpi. Dia punya mimpi, tapi realitanya berbanding terbalik dari mimpinya. Dia ingin kuliah di luar negeri, tapi dia cuma seorang bocah miskin di sudut pulau Belitong. Mimpinya kejauhan.

Baca juga : Seberapa Jauh Kita Terpisah?


Apa hikmah yang bisa diambil dari film Sang Pemimpi?
Kalo gue cuma satu, Zakia Nurmala itu cakep....
Gue selalu percaya bahwa kedewasaan-lah yang membuat orang menjauh dari mimpinya. Ketika seorang beranjak dewasa perlahan dia mulai berdamai dengan realita kemudian melupakan mimpi-mimpi. Ketika perlahan kita menua, kita menganggap mimpi adalah mimpi, dan pada saatnya kita harus bangun menerima realita.

Apakah benar harus begitu?

Entahlah. Blog ini memang penuh dengan pertanyaan gue yang nggak terjawab, termasuk pertanyaan barusan ini. Tapi ketimbang memberikan jawaban, yang lebih penting adalah memutuskan pilihan. Mau kemana? Tetap bodoh atau memutuskan menerima realita, menghadapi kenyataan hidup.

Tapi gue sekarang memutuskan untuk tetap menjadi bodoh. Gue akan tetap dengan mimpi-mimpi gue. Salah satu mimpi gue sebagai pengusaha adalah menjadi raja media. Gue nggak pernah kepikiran gimana cara mewujudkannya. Gue bukan anak Surya Paloh. Gue juga bukan anak Aburizal Bakrie. Tapi gue anak emak bapak gue, dan gue bangga dengan itu.

Gue pengen punya kantor berita sendiri, punya TV, Radio, koran, majalah, surat kabar, penerbitan hingga toko buku. Tapi gue benar-benar nggak tahu gimana mewujudkan mimpi-mimpi itu. So, gue memutuskan untuk lebih keras belajar, sambal memulai dengan langkah kecil. Gagal? Mumpung gue masih muda, belum banyak tanggungan, gue rasa gue nggak akan terlalu takut dengan kegagalan.

Baca juga : Merekam mimpi-mimpi

Suatu saat gue bakal beli CNN...
Terakhir ingat kata-kata gue ini, yang menghubungkan seseorang dengan mimpinya hanyalah keberanian mewujudkan mimpinya tersebut serta iman untuk percaya bahwa mimpinya itu akan terwujud.

Jadi kalo elo bukan anak orang kaya, dan elo ingin mimpi-mimpi elo terwujud, yang harus dilakukan hanyalah belajar lebih keras, berusaha lebih keras, dan percaya lebih keras. 

Seperti kata Aray di Sang Pemimpi, "Tanpa mimpi, orang-orang seperti kita ini akan mati." Jadi gue lebih memilih jadi bodoh ketimbang cepat-cepat mati. Fix!

7

MENINGGALKAN FEBRUARI

Posted by Santosa-is-me on 12:14 AM in
Udah berapa banyak sih puisi, lagu, kisah, drama dan film yang bercerita tentang cinta? Banyak, tak terkira. Hingga bahkan menggunung. Berlebihan malahan jadinya kayak sampah.

Jadi, mohon maaf kiranya jika malam ini gue bakal menambahkannya satu lagi. Semoga posting kali ini nggak jadi sampah, karena ini udah berdasarkan perenungan mendalam gue ketika sedang nungguin lampu mati yang nggak nyala-nyala.... Emang kampret nih PLN. #Ngamuk

Kalau tulisan ini jelek, salahkan PLN....
Cinta! Nat King Cole merasa sampe perlu menjabarkannya huruf per huruf. Gue sendiri nggak tertarik menjelaskannya dengan detail. Karena menurut gue, setiap orang yang berkesempatan hidup hingga cukup dewasa pasti pernah merasakan hal ini. Apapun bentuknya.

Tadinya gue selalu berfikir bahwa cinta adalah sesuatu yang spesial. Banyak orang udah ngelakuin kegilaan melewati batas kewajaran "cuma" gara-gara cinta. Bukan cuma itu, cinta juga mampu hadirkan faktor pengikut yang wujudnya tak terprediksi, mulai dari bahagia seperti yang diharapkan semua orang yang jatuh cinta, hingga patah hati, luka, dendam, friendzone, macem-macem...

Tapi di usia 27 tahun ini gue udah mulai melihat cinta dengan sudut pandang dewasa. Gue bukan lagi gue yang dulu, penggemar Bollywood yang menganggap cinta itu adalah joget-joget di belakang tiang listrik. Gue juga bukan lagi gue yang pernah ngikutin drama Taiwan yang menganggap cinta itu adalah milik Tauming Se dan Shan Chai. Dan gue juga bukan lagi gue yang menganggap bahwa Cinta itu adalah pacarnya Rangga, temennya Alya, Milli, Maura sama Karmen. Bagi gue di usia sekarang, gue nggak perlu lagi referensi soal kisah cinta. Gue punya kisah cinta gue sendiri.

Bagi gue cinta itu sederhana. Yang bikin cinta bisa hadir demikian penuh warna adalah manusia-manusia yang berada di dalamnya. Nggak perduli sesederhana apapun, manusia-manusia yang berada di dalamnya lah yang membuat kisah cinta itu jadi berbeda-beda. Dan hadirlah ia jadi inspirasi tanpa habis. Kisah roman yang nggak bosen buat diulang-ulang.

Ya, keunikan manusia-manusia yang terlibat di dalamnya lah yang memberikan sedemikan banyak warna dalam setiap kisah cinta. Gue percaya, tidak ada kisah cinta yang benar-benar persis sama. Sebagaimana halnya tidak ada manusia yang benar-benar persis sama. Kisah Jay Gatsby dan Daisy Buchanan tentu tak akan sama jika yang ada di dalamnya bukan mereka berdua. Kisah Cinta-Rangga tak akan mengharu biru seperti itu bila mereka bukan sebagaimana yang mereka kenal. Manusia lah yang memberi warna pada cinta.

Apa sih yang sedang ingin gue sampaikan? Hmmm gue sendiri nggak ngerti sih. Tapi yang pasti hidup ini sebenarnya penuh dengan duka. Penuh hal yang menakutkan dan ketidakpastian. Maka cinta adalah salah satu morfin yang membuat kita melewati kehidupan dunia tanpa selalu harus merasa paranoid. Cinta dan hal-hal membahagiakan lainnya adalah distraction untuk kita menghadapi ketakutan-ketakutan yang cepat atau lambat pasti bakal ditemui. Bahkan kalau mau jujur cinta itu sendiri kan penuh hal-hal menakutkan. Ditolak, digantung, patah hati, dikhianati, bahkan kalaupun berjalan bahagia, bukankah pada akhirnya cinta harus berpisah juga oleh kematian. Makanya sampai ada penyair yang bilang, seperti apapun jalannya kisah cinta, ujungnya pasti air mata. Bahkan kisah cinta yang pada akhirnya terpisahkan oleh kematian di usia senja mungkin jauh lebih menyakitkan. Bayangkan, puluhan tahun menjalani hidup bahagia bersama, kemudian harus kehilangan seseorang yang menemani kita menjalani kebahagiaan itu, weiii, I can't imagine that....

Jadi galau gue...!

Setiap orang punya kisah cintanya sendiri, nikmat saja....
Ya udah deh, mumpung februari yang sebenarnya nggak ada hubungan apa-apa sama cinta tapi gue hubung-hubungkan aja, baru saja lewat, mending kita coba memaknai cinta kembali. Menghormati manusia-manusia yang terlibat di dalamnya. Jangan sampai manusia-manusia yang terlibat dalam kisah cinta itu sedemikian rendahnya, hingga cintapun jadi kehilangan makna...

Mari belajar memahami cinta. Mari belajar menjalin kisah cinta yang suci. Dan doakan gue mampu membangun kisah cinta yang indah. Terutama kalian yang masih jomblo dan sering di-bully. Katanya doa orang yang menderita itu dikabulkan Tuhan. So, doain gue ya ya ya....



Copyright © 2009 BIG RHINO WHO WANTS TO FLY All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.