8

CATATAN PERJALANAN : SEMALAM DI MALAYSIA part 1

Posted by Santosa-is-me on 11:15 PM in

Inilah kisahku semalam di Malaysia
Diri rasa sunyi aduhai nasib apalah daya
Aku hanya seorang pengembara, yang hina...

Kekasih hatiku pun telah pula hilang...
Hilang tak berpesan aduhai sayang apalah daya
Cinta hampa hidupku pun merana, mana dia...

(D'Lloyd - Semalam di Malaysia)


Lagu di atas adalah bikinan band lawas Indonesia bernama D'Lloyd yang berjudul Semalam di Malaysia. Sengaja gue ambil sebagai pembuka karena menurut gue cocok banget dengan yang mau gue ceritakan di postingan kali ini. Lagu aslinya galau banget. Coba aja dengar.


Ini nyambung dengan postingan gue yang sebelumnya. Buat yang belom baca, boleh klik di mari, biar ceritanya runut dan nyambung.

Jadi, malam itu gue berangkat dengan bus Damri menuju ke perbatasan Indonesia - Malaysia. Awalnya gue pikir, gue mesti berangkat dari tempat gue beli tiket, namun ternyata gue harus berangkat dari terminal antar negara di Sungai Ambawang, Kalimantan Barat. Dan salah satu dosa gue sebagai penghuni Kalbar dan Kubu Raya adalah nggak tau dimana terminal keberangkatan antar negara ini berada. Sering dengar, tapi nggak pernah ke sana.

Maka berterima kasihlah pada penemu GPS, karena berkat tekhnologi satu ini gue berhasil menemukan tempat tersebut yang ternyata nggak jauh. Dan untungnya ternyata gue bukan satu-satunya orang yang nggak tahu tempat tersebut. Di tengah jalan, ketika sedang nunggu di trafick light, ada ibu-ibu yang nanya dimana letak terminal antar bangsa. Gue dengan gaya sok tau nyuruh ibu-ibu itu ngikutin gue, padahal sebenarnya gue juga nggak tau dan cuma ngandelin GPS.

Gue tiba di terminal antar bangsa. Ternyata eh ternyata, terminal antar bangsa ini terlihat cukup gede dan modern. Bahkan boleh dibilang tempatnya jauh lebih keren dari Bandara Supadio yang sekarang. Cuma herannya kok sepi ya? Yang gue liat bahkan pedagang-pedagang juga nggak ada. Cuma satu kios yang buka (dan yang nggak disangka itu, ternyata yang punya kios adalah tetangga gue). Apa gue kemalaman? Atau karena itu hari minggu?

Tepat jam 9 malam, gue berangkat meninggalkan terminal antar bangsa dengan menggunakan bus dari perusahaan bus plat merah. Sebenarnya sih banyak pilihan bus yang bisa dipilih, cuma karena gue nggak pengalaman naek bus, gue taunya cuma Damri doang. And just for information, bus-bus yang ada di terminal tersebut nggak cuma yang mau ke Kuching, ada juga yang mau ke Brunai Darussalam atau kota-kota lain di Serawak.

Perjalanan Pontianak - Kuching itu ditempuh dalam perjalanan yang lumayan panjang. Karena menghabiskan waktu semalaman di dalam bus, kursi penumpang dibuat senyaman mungkin serta dilengkapi AC. Untuk bus yang gue naiki, gue bahkan diberi fasilitas selimut, serta air minum dan snack berupa roti. Harga yang sesuai untuk ongkos mencapai lebih dari Rp. 300.000.

Perjalanan Pontianak menuju Entikong ternyata memang seperti yang banyak diceritakan orang-orang. Meski sepanjang malam itu gue tertidur karena ngantuk banget (maklum, malam sebelumnya gue susah tidur), namun berkali-kali gue terbangun karena bus berguncang keras ketika harus melewati jalan yang rusak. Untungnya gue nggak sendirian malam itu. Yang duduk tepat di sebelah gue ternyata adalah adik kelas gue waktu SMA dulu. Dia PNS di entikong dan tiap saban pekan dia bolak-balik Entikong-Pontianak. Tahan juga dia, salut gue.


Bus Damri, harusnya ditambah fasilitas nasi padang gratis...
Tengah malam bus singgah di sebuah rumah makan padang. Meski tengah malam, rumah makan Padang ini rame banget. Beberapa bus terparkir. Orang-orang pada makan. Histeria ini, bikin gue yang nggak ada rencana makan (secara gue udah makan sebelum berangkat), ikutan makan. Betapa gue nggak sanggup menpertahankan rencana awal gue dan hal-hal kayak beginilah yang sering bikin perjalanan over budget.

Malam itu ada satu hal yang gue lupa lakukan. Karena rencana sebenarnya gue berangkat pake pesawat di minggu siang, maka harusnya gue memberikan kabar ke teman gue yang janjian ketemuan dengan gue di Kuala Lumpur senin pagi. Namun sialnya ketika gue ingat untuk melakukan itu, kedua ponsel yang gue bawa sudah kehabisan baterai. Chaos yang terjadi sehari sebelumnya membuat gue lalai untuk mengisi ulang baterai kedua ponsel gue.

Menjelang pukul 5 bus tiba di PPLB (kepanjangannya PPLB tuh Pos Pemeriksaan Lintas Batas) Entikong. Di depan gerbang udah banyak yang berkerumun sementara PPLB baru buka pukul 5. Waktu menunggu gerbang dibuka, gue manfaatkan untuk sholat Subuh di masjid yang ada di komplek PPLB. Di gerbang PPLB ini juga banyak pengasong yang jual jasa penukaran uang ringgit dan kartu telepon Malaysia. Gue nggak niat beli, jadi gue nggak sempat nanya berapa harganya.


Numpang nunggu gerbang di buka....
Tepat jam 5 pintu lintas batas dibuka. Gue, berserta orang-orang yang udah lumutan nunggu di gerbang akhirnya masuk dan antri biar paspor gue dapat cap sebagai izin lintas batas. Kemudian perjalanan berlanjut ke PPLB Tebedu untuk juga mendapat cap dan izin masuk negara Malaysia. Di sini resmi sudah gue meninggalkan Indonesia dan masuk ke negeri orang Malaysia. Dan melihat negeri orang ini membuat gue iri setengah mati.

Gimana nggak, jika perjalanan Pontianak - Entikong penuh dengan perjuangan melewati jalan yang rusak, maka selepas PPLB Tebedu, jalan mendadak mulus tanpa hambatan. Bahkan sampai memasuki Kuching, tidak ada jalan yang rusak seperti halnya yang terjadi di Indonesia. How pathetic is it?

Menjelang pukul setengah 9 gue memasuki kota Kuching. Dan sekali lagi gue iri. Yang gue lihat adalah sebuah kota yang teratur dan rapi jika di bandingkan dengan Pontianak. Nggak ada bangunan-bangunan yang berbatasan langsung dengan jalan raya kayak di Pontianak. Pemukiman juga tampak tersusun dengan baik dan nggak berantakan. Dan yang luar biasanya lagi, terminal busnya kueeerrren abis. Kalo tadi gue sempet muji terminal antar Bangsa di Sungai Ambawang itu keren, sekarang jadi nggak ada apa-apanya dibandingkan terminal bus yang bernama Kuching Central tersebut. Terminal tersebut udah kayak Mall. Lebih tepatnya emang Mall atau terintegrasi dengan Mall. Ruang tunggunya keren banget, udah kayak ruang tunggu airport aja.


Kuching Sentral, di foto dari dalam Taksi. Percayalah, itu beneran Terminal bus...
Okee, cukup untuk hari ini. Gue capek. Tapi perjalanan gue di Malaysia masih berlanjut. Baca aja nanti di Sini nanti ya, kalau udah gue tulis....

Sampai jumpa lagi di part 2, semoga nggak bosan...

1

CATATAN PERJALANAN : KETIKA REALITA TAK SEINDAH RENCANA

Posted by Santosa-is-me on 12:27 AM in
Fyuuuuh.... (menghembuskan nafas berat ceritanya)....

Akhirnya sempat juga gue nge-update nih blog. Sebenarnya udah dari kemaren gue pengen ngeupdate postingan baru di sini, cuma nggak sempat-sempat. Sekarang gue udah sempat, dan gue bawa oleh-oleh cerita yang bakal jadi hiasan nih blog untuk beberapa postingan ke depan.

Judul post gue kali ini emang agak dramatis, tapi sumpah ini bukan gue lagi nyoba nyontek sinetron, atau kepengen nyaingin bapak-bapak India yang nguasain jagad sinetron dan perfilman Indonesia. Ini adalah cerita perjalanan gue kemaren.

Awal cerita ini adalah ketika pertengahan April kemaren gue berencana untuk pergi liburan ke luar negeri. Tujuannya adalah Thailand, karena pertengahan april itu sedang ada Songkran. Songkran adalah tahun baru orang-orang Thailand dan tradisi mereka ketika tahun baru adalah main-main air dan semprot-semprotan (aneh ya????).


Sonkran, tujuan utama gue ke Thailand kemaren.... (sumber)
Gue berencana pergi dengan seorang teman gue yang emang traveler. Dan menurut dia yang emang udah beberapa kali ke Bangkok dan Pattaya, untuk Songkran kali ini lebih baik gue menghindari dua kota itu dan mengusulkan sebuah kota bernama Hat Yai. Menurut dia di Hat Yai, Songkrannya lebih kental dengan aroma tradisi karena di sana nggak banyak bule kayak di Bangkok atau Phuket. Gue yang nge-blank soal Thailand, meng-oke kan saja.

Plan perjalanan awalnya adalah gue berangkat dari Pontianak menuju Kuala Lumpur pake pesawat. Gue emang nggak berangkat bareng teman gue yang ngajak ke Hat Yai tadi, karena dia udah berangkat duluan ke Penang, dan baru bisa datang ke KL sehari setelah jadwal keberangkatan gue. So, rencananya gue bakal bermalam di Kuala Lumpur sendirian. 

Prospek bermalam di Kuala Lumpur ini bikin gue excited banget. Ada banyak pengalaman baru yang bakal gue dapat. Salah satunya adalah nginep di dorm atau hostel. Wuih, ini pengalaman pertama gue, soalnya sebelum-sebelumnya gue selalu nginep di hotel. Ngebayangin sekamar sama orang asing yang nggak di kenal. Gimana kalau seandainya gue sekamar sama Leonardo Dicaprio? (kenapa kalimat terakhir ini terasa aneh?)


Siapa tau Leo ngajakin gue main film "The Beach 2"
Gue juga udah merencanakan perjalanan gue di Kuala Lumpur secara seksama. Tempat-tempat kayak Twin Tower Petronas, Petaling Street, Mesjid Jamek, Masjid Negara, Islamic Art Museum, Makan-makan di Jalan Alor hingga ngunjungi mantan rumahnya P. Ramlee udah masuk ke dalam list gue ketika berada Kuala Lumpur.

Tapi malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih. Tepat malam minggu, atau malam sebelum keberangkatan gue, ketika dimana gue seharusnya sedang disibukkan buat packing, gue malah mendapat suatu berita yang kemudian menjadi masalah yang mengganggu pikiran gue sepanjang malam itu. Bahkan gue sampe sulit tidur sepanjang malam. Dan entah gimana itu jadi kayak firasat buruk buat gue. Gue jadi gelisah.

Sialnya gue orang yang cenderung intuitif. Bukannya siap berangkat, hingga pagi gue masih berusaha menyelesaikan masalah tersebut biar siangnya gue bisa berangkat. Tapi sialnya sampe jam 12 siang itu, masalah gue tersebut belum juga beres. Dan gue nggak akan bisa berangkat dengan perasaan yang nggak tenang dan gelisah. Liburan macam apa itu jadinya? 

Maka hanguslah tiket Pontianak - KL gue siang itu. Kalo gue pikir-pikir lagi sekarang, gue kadang ngerasa waktu itu gue konyol banget deh. Tapi ya udahlah mau gimana lagi. Pokoknya gue siang itu udah terancam nggak jadi liburan ke Thailand.

Tapi ternyata langit berbaik hati sama gue. Sekitar pukul dua siang, ketika gue udah nyaris yakin buat batal pergi, tiba-tiba ada keajaiban. Masalah gue tersebut mendapat sedikit titik terang. Belum selesai, tapi paling nggak gue bisa sedikit tenang lah meninggalkan Pontianak dan seisinya.

Maka harapan untuk liburan yang sudah hilang itu mendadak muncul lagi. Dengan cepat gue berhitung. Kalau gue batal, rasanya sayang banget. Tiket pulang udah dibeli, hotel juga udah di sewa, jadi kalo gue nggak pergi gue bakal tetap kena tagihan sewa hotel. Belum lagi gue bakal bikin teman gue yang ngajakin ke Thailand kecewa. Lagian gue emang kepengen banget ke Thailand dan liat Songkran. 

Tapi pesawat udah berangkat. Dan itu adalah satu-satunya pesawat rute Pontianak-KL yang ada. Pesawat dengan rute yang sama baru akan ada lagi lima hari kemudian. Ya benar, lima hari kemudian! Ada dari maskapai penerbangan lain, tapi harga tiketnya minta ampun mahalnya.
Pusing mikirin bujet perjalanan yang membengkak...
Setelah berhitung dengan cermat, gue akhirnya menemukan solusi yang kemudian akhirnya gue pilih. Yaitu gue mengubah rute perjalanan menjadi jalur darat dari Pontianak-Sarawak kemudian dari Sarawak naik pesawat ke Kuala Lumpur. Meski kemudian gue rada nyesel juga sebenarnya. Karena kalo ditotal-total, perjalanan dari kota gue ke Kuala Lumpur dengan maskapai lain harganya kurang lebih harga tiket bus ditambah tiket pesawat. Yah, tapi ya udahlah ya. Udah lewat juga, buat apa juga gue sesalin.

Maka sore itu gue dengan agak tergesa-gesa booking tiket pesawat Serawak - Kuala Lumpur (yang muahal minta ampyun), juga tiket bus Damri (gue taunya kemaren itu cuma Damri) Pontianak - Serawak, lalu packing. Dan malamnya, perjalan liburan gue dimulai.

Gue sendiri nggak nyesal dengan pengalaman nyaris batal berangkat kemaren itu. Tapi ada pelajaran yang bisa gue bagi buat teman-teman dari pengalaman ini.
1. Banyak-banyak berdoa. Manusia bisa berencana, Tuhan yang menentukan.
2. Jangan ketinggalan pesawat.
3. Jangan nyalakan ponsel sehari menjelang keberangkatan.
4. Usahakan punya kembaran, jadi kalo batal pergi bisa minta gantiin. Kan sayang tiketnya.
5. Perempuan itu susah dimengerti.

Oke, saran gue di atas emang ngaco dan nggak nyambung. Tapi yang pasti ketika realita ternyata nggak seindah rencana, ya hidup harus tetap berjalan. Apapun pilihan yang diambil bersiaplah untuk mempertanggung jawabkannya (kalo gue mulai bijak gini, tandanya gue udah mulai lelah dan harus segera mengistirahatkan otak :).

Cerita ini bakal bersambung. Lanjutannya bisa di baca di Sini (kalo di klik nggak kebuka berarti sambungannya belum ditulis)

Copyright © 2009 BIG RHINO WHO WANTS TO FLY All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.